Catatanku Saat Bersama Mereka


cntap2-gene-autism

Pada hari Kamis, 6 September 2012 merupakan pengalaman pertamaku untuk menjadi seorang guru khusus di sekolah asrama bagi anak-anak istimewa yang berlokasi di daerah Ragunan, Jakarta Selatan. Walaupun mereka memiliki keterbatasan berpikir, mereka dapat memberikan perhatian yang lumayan baik terhadap gurunya. Awalnya aku merasa seperti masuk ke dalam dunia lain yang banyak terdapat orang-orang asing berperilaku di luar kebiasaan kita sehari-hari. Di antaranya : berteriak, tertawa cekikikan tanpa sebab, berputar-putar, melompat-lompat, menggigit tangannya, berlari kian-kemari seperti sedang lomba lari dan memukul-mukul kepalanya.

tanda autisme

Satu per satu aku pelajari karakter mereka, walaupun tidak sepenuhnya aku dapat mengerti kenapa mereka bisa mengalami hal tersebut? Di dalam lubuk hatiku yang paling dalam merasa sangat iba dengan penderitaan mereka dan bersyukur bahwa Allah SWT memberikan kesehatan yang sempurna bagiku. Sebab sebagian besar dari mereka yang bersekolah di asrama anak berkebutuhan khusus merupakan anak-anak yang berasal dari kalangan ekonomi atas, namun keluarganya sangat tidak peduli dengan keberadaan mereka.

Salah seorang anak istimewa yang bernama Bagas tinggal di asrama tersebut, pandai sekali menggambar suatu peristiwa dimana seminggu kemudian menjadi berita utama di televisi dan surat kabar. Selain itu, ada juga yang suka sekali dengan musik, sehingga dia merasa sebagai seorang musisi yang selalu bermain gitar dan menyanyikan lagu-lagu berirama keras seperti contohnya kelompok musik Jamrud sebagai idolanya.

Gedung Sate ala Bagas

Gambar Gedung Sate hasil karya Bagas

Dalam sehari aku mengajarkan tiga orang anak istimewa yang memiliki karakter sangat luar biasa. Muridku di pagi hari (jam 08.00-10.00 WIB) berusia 15 tahun, dia sangat suka sekali dengan musik seperti yang aku ceritakan sebelumnya. Alhamdulillah…dia sangat patuh padaku dan memiliki kecerdasan yang baik. Namanya Ricky. Setiap hari saat aku ajarkan konsentrasinya hanya sesaat, namun kasih sayangnya terhadap guru yang mengajarkannya patut diacungi jempol. Dia merupakan murid berkebutuhan khusus terbaik untukku.

Suatu hari aku mengalami flu dan batuk, sehingga saat mengajar aku memerlukan penutup mulut (masker) agar muridku tidak tertular penyakitku. Kemudian Ricky bertanya padaku : “Bu…kenapa? Koq mulutnya ditutup? Dibuka….Bu!” Aku jawab : ”Tidak bisa Ricky, bu Ika pakai masker ini supaya kamu tidak ikut sakit batuk.” Lama-kelamaan dia pun mengerti.

Aku sangat menyayangi Ricky sebagai muridku yang baik hati dan pandai menyanyi. Di lain hari aku menggunakan jam tangan. Rupanya benda tersebut menarik perhatiannya dan menimbulkan pertanyaan : ”Waah…bagus tu! Beli dimana, Bu?” Aku jawab : “Terima kasih. Ooh..ini jam tangan hadiah dari adik bu Ika.” Aku meminjamkan jam tangan tersebut, terlihat rona bahagia di wajahnya. Mungkin Ricky merasa kurang nyaman, “Bu..sudah..” dia memohon agar aku melepaskan jam tangan tersebut.

Ricky memiliki kebiasaan seperti memegang gitar dan menggigit-gigit punggung tangan. Dia suka sekali menyanyi lagu SiDoel Anak Sekolah dan Selamat Ulang Tahun dari Jamrud. Untuk pelajaran yang berhubungan dengan keindahan dia suka sekali, tapi untuk belajar berhitung dia bosan dan selalu minta izin ke kamar mandi. Aku hanya mampu mengalihkan perhatian, agar dia tidak merasa bosan.

Jamrud ala Ricky

Gambar Jamrud hasil karya Ricky

Untuk muridku yang kedua bernama Andre (14 tahun) belajar pada jam 10.30-13.00 WIB. Dia tidak dapat bicara dan hanya menirukan tulisan yang ada di kertas. Kebiasaannya memukul dan menarik jakun di lehernya. Tatapan matanya lumayan fokus, tapi hanya beberapa menit. Dia jarang marah. Ketika belajar, konsentrasinya hanya sedikit.

Seminggu kemudian muridku berganti lagi. Rio (10 tahun). Dia tidak dapat bicara jelas hanya gerakan bibir (komat-kamit seperti orang baca mantra), sangat pemarah dan benci kotoran. Di awal aku mengajar Rio, aku belum mengerti apa maksud dibalik kemarahannya dan bagaimana cara mengatasinya? Suatu ketika dia menarik tanganku sangat kencang sambil berteriak dan menimbulkan luka ringan akibat dari garukan kukunya. Sempat membuatku terkejut, karena Rio seperti anak kecil yang mengamuk karena tidak tercapai keinginannya. Setelah guru senior memberitahuku, bila Rio mulai menarik tangan atau baju gurunya berarti dia ingin segera buang air kecil.

Rio sering merasa stress saat mulai belajar. Sebelum belajar aku mengajarkannya untuk berdo’a, ketika tangannya mulai siap berdo’a, tak berapa lama dia menarik kencang tanganku dan mengajak ke kamar mandi. Tidak semua kamar mandi dia suka, Rio memilih kamar mandi yang bersih dan wangi. Kalau lantai kamar mandinya terlihat kotor, Rio tidak mau masuk ke kamar mandi dan buang air kecilnya dari sisi luar kamar mandi. Ini cukup membuatku kerepotan, karena seringkali air seninya bubar ke luar kamar mandi.

Rio suka sekali dengan pelajaran yang berhubungan dengan keindahan seperti Ricky. Jika diberi pelajaran berhitung, mencocokkan gambar dan mengingat huruf sesuai abjad, dia langsung keringat dingin dan tangannya langsung menarik baju untuk mengusap-usap gigi dan mulutnya. Kebiasaan Rio yang menurutku paling mengerikan adalah suka memukul-mukul kepalanya atau membenturkan kepalanya ke dinding sambil berteriak. Dia melakukan hal ini karena sudah merasa tidak sanggup untuk belajar dan kesal tidak mengerti materi yang diajarkan guru. Padahal aku mengajarkannya secara perlahan tanpa ada tekanan. Kemarahannya bisa reda bila pembelajaran dihentikan. Dan Rio hanya diberikan puzzle, alat peraga menjelujur atau buku gambar berwarna sebagai hiburannya.

Sapi jahit

Menjelujur

gajah alfabet

Puzzle huruf 

Muridku yang ketiga bernama Lando (16 tahun). Dia terapi wicara pada jam 14.00-15.30 WIB. Pertemuan pertama dia terlihat sangat tegang dan merasa ketakutan karena kehadiranku sebagai guru barunya. Dia berteriak-teriak dan menarik jilbabku, untungnya tidak sampai terlepas dari kepalaku. Bagi orang awam mungkin tidak akan mengetahui kalau Lando merupakan siswa anak berkebutuhan khusus. Badannya tinggi tegap dan wajahnya hitam manis. Kalau Lando mulai diajak bicara, dia menjawab dengan nada seperti robot dan suka meniru ucapan dari lawan bicaranya. Lando sangat antusias pada alat peraga yang bergambarkan angka-angka. Sepertinya dia berbakat menjadi seorang akuntan.

Setelah beberapa hari, Lando termasuk muridku yang pandai dan sangat perhatian terhadap gurunya. Kamar Lando terletak di lantai dua, saat aku menjemputnya dari kamar untuk terapi wicara di lantai satu, dia memegang pergelangan tanganku seperti memegang seorang Putri. Aku sangat terharu diperlakukan seperti ini oleh seorang murid berkebutuhan khusus. Bila kita menyayanginya dengan tulus ikhlas, siapa yang menyangka kalau anak berkebutuhan khusus perhatiannya sangat luar biasa?

Aku sempat menyaksikan hari ulang tahun Ricky ke-16 tahun pada tanggal 2 Oktober 2012. Jauh-jauh hari sebelum ulang tahun, Ricky memohon padaku untuk memberikan hadiah yang bertemakan Spiderman dan baju. Aku berusaha untuk mengabulkan keinginannya. Alhamdulillah…aku memperoleh puzzle bergambar Spiderman, yang kebetulan tinggal satu-satunya di TB. Salemba dan sebuah t-shirt hitam bergambar wayang Arjuna.

arjuna

Kaos bergambar wayang

Aku sangat terharu karena Ricky antusias sekali saat aku memberikan hadiah di hari istimewanya. Orang tua dan kedua tantenya datang ke asrama untuk merayakan hari ulang tahunnya dan berbagi kebahagiaan dengan teman-teman serta guru-gurunya. Keluarganya memberikan hadiah nasi uduk dan kue ulang tahun.

puzzle-spidermanPuzzle Spiderman

Di samping itu, Ricky sangat penasaran dengan hadiah yang kuberikan. Tanpa harus menunggu lama, dia langsung membuka hadiah tersebut dan berteriak : ”Horeee..Spiderman..Spiderman!!! Ada kaos wayang. Terima kasih, bu Ika.” Aku menatap Ricky sambil berkaca-kaca menahan haru. Dalam hatiku : “Yaa Allahu….tolong jaga Ricky, agar dia senantiasa menjadi anak yang pandai dan disayang keluarga serta guru-gurunya.”

Spiderman ala Ricky

Gambar Spiderman hasil karya Ricky

Aku ingin menangis bila mengingat peristiwa tersebut. Ricky adalah muridku yang baik hati dan penurut, namun orang tuanya tidak memberikan perhatian yang lebih. Hanya ada di hari ulang tahun, di hari-hari biasa Ricky kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Kaos baru untuk ganti pakaian sehari-hari, sangat jarang diperolehnya.

Malam hari menjelang tanggal 3 Oktober 2012, tiba-tiba aku mendapat sms dari petugas administrasi sekolah asrama tersebut. Bunyi smsnya : “Bu Ika…besok pagi langsung ngajar ke Lebak Bulus ya.” Aku hanya terdiam sejenak karena aku memikirkan Ricky, Rio dan Lando. Mereka murid-muridku yang belum aku titipkan pesan-pesan. Dadaku terasa sesak menahan sedih karena harus berpisah dengan ketiga muridku.

Hari Rabu, 3 Oktober 2012 aku bertugas untuk mengajarkan anak-anak istimewa di wilayah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Aku benar-benar terkejut melihat perilaku anak-anak istimewa di Lebak Bulus lebih agresif dibandingkan anak-anak istimewa di Ragunan.

Di Lebak Bulus, pagi hari (jam 08.00-10.00 WIB) aku mengajarkan dua murid sekaligus, mereka adalah Anis (13 tahun) dan Ariel (17 tahun). Anis hanya dapat menirukan setiap ucapanku (membeo). Kadangkala aku bingung dengannya. Bagaimana aku memberikan pertanyaan, kalau setiap aku berucap Anis menirukannya dan tidak menjawabnya? Kecerdasan Anis cukup baik, tetapi dia harus aku arahkan untuk jawaban yang benar.

Ariel sudah berusia tujuh belas tahun, tapi tidak dapat bicara dan motorik halusnya sangat lemah. Dia tidak mampu menulis dengan benar dan daya tangkapnya pun sangat kurang. Cara mengajarkannya masih seperti ke anak-anak kelompok bermain. Untuk kegiatan menulisnya diperlukan garis putus-putus, agar Ariel dapat menebalkannya. Untuk mewarnai sebuah obyek gambar saja, dia belum sempurna. Saat menulis jari tangannya harus dibantu olehku sebagai gurunya saat itu. Benar-benar perlu perhatian istimewa terhadap murid seperti ini.

Pada jam kedua (10.30-13.00 WIB) aku bertugas untuk mengajarkan Aning (14 tahun) dan Made (14 tahun). Aning tidak memiliki minat belajar yang tinggi yang mengharuskan dia untuk duduk manis di depan meja dan buku pelajaran. Dia lebih senang bermain ayunan dan bernyanyi. Bila aku meluruskan kalimat yang kurang tepat dia ucapkan, tiba-tiba dia berontak dan mimik wajahnya berubah seperti Drakula yang ingin menghisap darah. Aning suka menyerang dengan gerakan yang menakutkan. Dibandingkan Rio (muridku di Ragunan), Aning lebih sering mencakar, menarik baju dan jilbabku.

Lain halnya dengan Made. Tingkat kecerdasannya lumayan baik, namun setiap pelajaran dimulai, dia selalu minta izin ke kamar mandi. Dalam dua jam pelajaran, bisa empat kali bolak-balik minta izin ke kamar mandi.

Siang harinya (14.00-16.00 WIB) aku mengajarkan wicara untuk Kresna (5 tahun). Dia tidak dapat bicara dengan lancar, konsentrasinya masih kurang, namun tingkat kecerdasannya bagus. Kresna muridku yang paling manja sekaligus hiperaktif. Kebiasaannya berteriak dan menangis. Saat aku memperagakan angka-angka dia lebih antusias dibandingkan gambar-gambar hewan, sayuran atau buah-buahan. Sifatnya mirip muridku yang bernama Lando.World-Autism-Day

Dikarenakan ada tugas lain yang menanti, pada hari Kamis, 1 November 2012 aku memutuskan untuk mengakhiri catatan bersama anak-anak istimewa. Kesedihan masih menyertaiku, namun setiap peristiwa harus siap dihadapi apapun resikonya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s